0 Comments

ADAS merupakan kumpulan teknologi bantuan berkendara yang dirancang untuk membantu pengemudi mengenali bahaya, menjaga posisi kendaraan, dan mengurangi risiko kecelakaan. Sistem ini bekerja menggunakan kamera, radar, sensor ultrasonik, serta perangkat elektronik lain untuk membaca kondisi di sekitar mobil.

Fitur ADAS pada mobil dapat memberikan peringatan, mengatur kecepatan, mengoreksi arah kemudi, bahkan melakukan pengereman darurat. Namun, ADAS bukan pengganti pengemudi dan tidak otomatis menjadikan sebuah mobil sebagai kendaraan yang sepenuhnya otonom.

Apa Itu ADAS?

ADAS adalah singkatan dari Advanced Driver Assistance Systems atau sistem bantuan pengemudi tingkat lanjut.

Teknologi ini dikembangkan untuk mendukung pengemudi ketika menghadapi berbagai situasi di jalan. ADAS dapat membantu mendeteksi kendaraan lain, pejalan kaki, garis marka, objek di titik buta, hingga kemungkinan benturan.

Berbeda dari fitur keselamatan pasif seperti sabuk pengaman dan airbag, sebagian besar fungsi ADAS bekerja sebelum kecelakaan terjadi. Sistem berusaha memberi peringatan atau melakukan tindakan tertentu agar risiko benturan dapat dikurangi.

Meskipun demikian, kemampuan setiap mobil tidak selalu sama. Sebuah kendaraan mungkin hanya memiliki peringatan keluar jalur, sedangkan model lain mampu mengoreksi kemudi dan mengatur jarak secara otomatis.

Nama fitur yang digunakan setiap produsen juga dapat berbeda. Karena itu, pembeli perlu memahami fungsi sebenarnya dan tidak hanya terpaku pada istilah pemasaran.

Fungsi ADAS pada Mobil

Secara umum, ADAS mempunyai tiga fungsi utama, yaitu memantau kondisi sekitar kendaraan, memperingatkan pengemudi, dan memberikan bantuan ketika terdeteksi risiko tertentu.

Sistem pemantauan bertugas mengumpulkan informasi melalui sensor. Informasi tersebut kemudian dianalisis oleh unit kontrol elektronik mobil.

Jika sistem menemukan potensi bahaya, ADAS dapat menampilkan peringatan melalui suara, lampu indikator, getaran pada kemudi, atau getaran pada jok.

Pada sistem yang lebih canggih, mobil juga dapat melakukan intervensi terbatas. Contohnya adalah mengurangi kecepatan, melakukan pengereman, atau memberikan koreksi ringan pada kemudi.

Tujuan intervensi tersebut bukan mengambil alih seluruh proses berkendara. Sistem hanya membantu pengemudi dalam situasi yang telah ditentukan oleh perangkat lunak dan kemampuan sensor kendaraan.

Cara Kerja ADAS

Cara kerja ADAS dapat digambarkan sebagai proses melihat, menganalisis, lalu merespons.

Pertama, sensor mengamati lingkungan di sekitar mobil. Kamera dapat membaca marka jalan dan bentuk objek, sedangkan radar mengukur jarak serta kecepatan relatif kendaraan lain.

Data tersebut dikirim ke unit pemrosesan. Perangkat lunak kemudian membandingkan posisi kendaraan, arah gerak, kecepatan, dan kondisi objek yang terdeteksi.

Jika ditemukan risiko, sistem menentukan respons yang sesuai. Responsnya dapat berupa peringatan kepada pengemudi atau intervensi langsung melalui rem, kemudi, dan pengaturan tenaga mesin.

Semua proses ini berlangsung dalam waktu sangat singkat. Walaupun demikian, hasil pembacaan ADAS tetap bergantung pada kondisi jalan, cuaca, kebersihan sensor, serta batas rancangan sistem.

Sensor Kamera pada ADAS

Kamera biasanya ditempatkan di bagian atas kaca depan, dekat spion tengah. Beberapa mobil juga memiliki kamera pada grille, bumper, spion samping, atau bagian belakang.

Kamera dapat digunakan untuk membaca garis marka, rambu lalu lintas, kendaraan, sepeda motor, dan pejalan kaki. Pada sistem tertentu, kamera membantu memperkirakan arah gerak objek yang berada di depan mobil.

Keunggulan kamera adalah kemampuannya mengenali bentuk dan informasi visual. Namun, kualitas pembacaan dapat menurun ketika pandangan terhalang hujan deras, kabut, silau matahari, atau kaca depan yang kotor.

Kamera ADAS juga perlu memiliki posisi dan sudut yang tepat. Pergantian kaca depan atau benturan dapat membuat kamera memerlukan kalibrasi ulang.

Sensor Radar pada ADAS

Radar memancarkan gelombang radio untuk mendeteksi objek dan memperkirakan jaraknya. Sensor ini juga dapat mengukur perbedaan kecepatan antara mobil dan kendaraan di sekitarnya.

Radar sering digunakan pada adaptive cruise control, autonomous emergency braking, dan blind spot monitoring. Sensor radar biasanya dipasang di bagian depan, sudut bumper, atau bagian belakang kendaraan.

Dibandingkan kamera, radar tidak bergantung sepenuhnya pada cahaya. Meski demikian, kinerjanya tetap dapat terpengaruh oleh kerusakan bumper, lapisan cat yang tidak sesuai, lumpur, salju, atau posisi sensor yang berubah.

Radar juga belum tentu dapat mengidentifikasi setiap objek secara sempurna. Karena itulah beberapa kendaraan menggabungkan data radar dan kamera agar pembacaan menjadi lebih lengkap.

Sensor Ultrasonik dan Sensor Lainnya

Sensor ultrasonik bekerja menggunakan gelombang suara berfrekuensi tinggi. Teknologi ini paling sering digunakan untuk mendeteksi objek pada jarak dekat.

Fungsinya umum ditemukan pada sensor parkir dan sistem parkir otomatis. Sensor ultrasonik membantu memperkirakan jarak mobil dengan dinding, tiang, atau kendaraan lain ketika bergerak perlahan.

Pada beberapa kendaraan, ADAS juga dapat menggunakan kamera inframerah untuk memantau wajah pengemudi atau membantu penglihatan malam. Ada pula sensor LiDAR, sensor sudut kemudi, sensor kecepatan roda, serta data dari sistem navigasi.

Setiap sensor memiliki kelebihan dan keterbatasan. Karena itu, sistem modern sering menggunakan sensor fusion, yaitu penggabungan informasi dari beberapa sensor untuk menghasilkan keputusan yang lebih akurat.

Autonomous Emergency Braking (AEB)

Autonomous Emergency Braking adalah sistem pengereman darurat otomatis. Fitur ini memantau area di depan kendaraan untuk mendeteksi risiko tabrakan.

Jika jarak semakin dekat dan pengemudi belum bereaksi, sistem biasanya memberikan peringatan terlebih dahulu. Pada situasi tertentu, AEB dapat melakukan pengereman secara otomatis.

Tujuannya adalah menghindari benturan atau mengurangi keparahannya. Namun, AEB tidak menjamin setiap kecelakaan dapat dicegah.

Kemampuannya dapat berbeda menurut kecepatan kendaraan, arah pergerakan objek, jenis objek yang dikenali, kondisi jalan, dan versi sistem. Ada AEB yang hanya dirancang mendeteksi kendaraan, sementara sistem lain juga dapat mengenali pejalan kaki atau pesepeda.

Pengemudi tetap harus menjaga jarak aman dan selalu siap melakukan pengereman sendiri.

Adaptive Cruise Control (ACC)

Adaptive cruise control merupakan pengembangan dari cruise control biasa.

Cruise control konvensional mempertahankan kecepatan yang telah dipilih. Sementara itu, ACC dapat menyesuaikan kecepatan berdasarkan jarak dengan kendaraan di depan.

Ketika kendaraan di depan melambat, ACC dapat mengurangi kecepatan. Setelah jalur kembali terbuka, sistem dapat mempercepat mobil menuju kecepatan yang sebelumnya ditentukan.

Beberapa sistem memiliki fungsi stop-and-go sehingga dapat mengikuti pergerakan lalu lintas dalam kecepatan rendah. Namun, tidak semua ACC dapat berhenti total atau bergerak kembali secara otomatis.

Adaptive cruise control juga dapat mengalami kesulitan ketika kendaraan lain memotong jalur secara mendadak, saat melewati tikungan tajam, atau ketika sensor tidak dapat membaca objek dengan jelas.

ACC tidak membebaskan pengemudi dari kewajiban memperhatikan lalu lintas. Kaki sebaiknya tetap siap mengambil alih pengereman ketika diperlukan.

Lane Departure Warning (LDW)

Lane departure warning berfungsi memperingatkan pengemudi ketika mobil keluar dari jalur tanpa penggunaan lampu sein.

Kamera membaca garis marka di sisi kiri dan kanan kendaraan. Jika sistem mendeteksi mobil mulai melewati garis, peringatan dapat diberikan melalui suara, indikator, atau getaran pada kemudi.

LDW termasuk sistem peringatan. Fitur ini umumnya tidak menggerakkan kemudi untuk mengembalikan mobil ke tengah jalur.

Kinerjanya sangat bergantung pada kejelasan marka. Garis yang pudar, tertutup air, bercabang, atau tidak tersedia dapat membuat sistem gagal mengenali jalur.

Lane Keeping Assist (LKA)

Lane keeping assist memiliki fungsi yang lebih aktif dibandingkan lane departure warning.

Selain mendeteksi kemungkinan kendaraan keluar jalur, LKA dapat memberikan koreksi kemudi secara terbatas. Koreksi tersebut membantu mengarahkan mobil kembali menuju jalurnya.

Sebagian sistem bekerja ketika mobil mendekati garis pembatas. Sistem lain dapat membantu mempertahankan posisi kendaraan di sekitar tengah jalur.

Walaupun kemudi terasa bergerak sendiri, tangan pengemudi tetap harus berada pada kemudi. Sistem dapat berhenti membantu jika marka tidak terbaca, tikungan terlalu tajam, atau kondisi jalan berada di luar batas operasinya.

LKA bukan fitur berkendara otomatis. Pengemudi tetap bertanggung jawab menentukan arah dan memastikan kendaraan berada di jalur yang aman.

Blind Spot Monitoring

Blind spot monitoring membantu mendeteksi kendaraan yang berada di area titik buta spion.

Ketika ada kendaraan memasuki area tersebut, lampu indikator biasanya menyala pada spion samping atau pilar pintu. Jika pengemudi menyalakan lampu sein menuju sisi yang terhalang, sistem dapat memberikan peringatan tambahan.

Fitur ini berguna ketika berpindah jalur. Namun, blind spot monitoring tidak menggantikan pemeriksaan spion dan menoleh singkat ke arah titik buta.

Jangkauan sensor dapat berbeda pada setiap mobil. Kendaraan yang bergerak sangat cepat, objek berukuran kecil, atau kondisi tertentu di sekitar bumper dapat memengaruhi pendeteksian.

Rear Cross Traffic Alert (RCTA)

Rear cross traffic alert membantu mendeteksi kendaraan yang melintas dari samping ketika mobil sedang mundur.

Fitur ini berguna saat keluar dari tempat parkir dengan pandangan yang terhalang kendaraan lain. Sistem biasanya memberikan peringatan visual dan suara ketika mendeteksi objek mendekat dari sisi kiri atau kanan.

Pada beberapa mobil, RCTA hanya memberikan peringatan. Pada sistem lain, fitur tersebut dapat dipadukan dengan pengereman otomatis belakang.

RCTA tetap memiliki keterbatasan. Pengemudi harus memeriksa kamera, spion, serta kondisi di sekitar kendaraan sebelum dan selama bergerak mundur.

Driver Monitoring System

Driver monitoring system digunakan untuk memantau perhatian dan kondisi pengemudi.

Versi sederhana dapat menganalisis pola gerakan kemudi serta durasi perjalanan. Sistem kemudian menyarankan pengemudi beristirahat jika terdeteksi pola yang menyerupai kelelahan.

Sistem yang lebih canggih menggunakan kamera untuk mengamati arah pandangan, posisi kepala, atau kemungkinan mata terpejam. Peringatan dapat muncul apabila perhatian pengemudi dinilai tidak tertuju ke jalan.

Fitur ini tidak dapat memastikan kondisi kesehatan seseorang secara menyeluruh. Driver monitoring hanya memberikan penilaian berdasarkan data yang mampu dibaca sistem.

Jika merasa mengantuk atau kehilangan konsentrasi, pengemudi harus berhenti di tempat aman dan beristirahat. Peringatan dari mobil tidak seharusnya dijadikan satu-satunya patokan.

Ringkasan Jenis Fitur ADAS dan Batasannya

Berikut ringkasan fitur ADAS yang umum dijumpai pada mobil modern.

AEB — Autonomous Emergency Braking

Berfungsi melakukan pengereman otomatis ketika terdeteksi risiko benturan. Sistem mungkin tidak mengenali semua objek atau bekerja pada seluruh rentang kecepatan.

ACC — Adaptive Cruise Control

Berfungsi menyesuaikan kecepatan untuk mempertahankan jarak dengan kendaraan di depan. Fitur ini dapat terlambat merespons kendaraan yang berpindah jalur secara mendadak.

LKA — Lane Keeping Assist

Berfungsi memberikan koreksi kemudi agar kendaraan tetap berada di jalurnya. Sistem bergantung pada marka jalan yang dapat terbaca.

LDW — Lane Departure Warning

Berfungsi memperingatkan ketika kendaraan keluar dari jalur tanpa lampu sein. Fitur ini biasanya tidak mengoreksi arah kemudi.

BSM — Blind Spot Monitoring

Berfungsi memperingatkan keberadaan kendaraan di area titik buta. Jangkauan deteksi terbatas sehingga pengemudi tetap perlu memeriksa spion dan kondisi sekitar.

RCTA — Rear Cross Traffic Alert

Berfungsi mendeteksi kendaraan yang melintas ketika mobil mundur. Sensor mungkin tidak dapat melihat objek yang terlalu kecil, terlalu cepat, atau terhalang.

DMS — Driver Monitoring System

Berfungsi memantau tanda-tanda kehilangan perhatian atau kelelahan. Sistem tidak dapat menggantikan penilaian dan kesadaran pengemudi sendiri.

Perbedaan Sistem Peringatan dan Sistem Intervensi

Tidak semua jenis fitur ADAS bekerja dengan cara yang sama. Perbedaan pentingnya terletak pada kemampuan sistem untuk mengambil tindakan.

Sistem peringatan hanya menyampaikan informasi kepada pengemudi. LDW, blind spot monitoring, dan sebagian rear cross traffic alert termasuk dalam kelompok ini.

Setelah menerima peringatan, pengemudi harus menentukan tindakan yang tepat. Mobil tidak selalu melakukan pengereman atau mengubah arah secara otomatis.

Sementara itu, sistem intervensi dapat memengaruhi kendali kendaraan dalam kondisi tertentu. AEB dapat mengaktifkan rem, LKA dapat mengoreksi kemudi, dan ACC dapat mengatur akselerasi serta deselerasi.

Intervensi ADAS bersifat terbatas dan dapat dihentikan oleh pengemudi. Sistem juga hanya bekerja jika persyaratan operasionalnya terpenuhi.

Karena nama fitur dapat terdengar serupa, pemilik mobil sebaiknya membaca buku manual untuk mengetahui apakah suatu fitur hanya memberi peringatan atau turut melakukan tindakan.

Kondisi yang Dapat Menurunkan Kinerja ADAS

Hujan deras dapat mengurangi jarak pandang kamera dan memengaruhi pembacaan lingkungan. Kabut, cipratan air, serta cahaya matahari yang menyilaukan juga dapat mengganggu deteksi.

Marka jalan yang pudar, terputus, tertutup genangan, atau memiliki pola tidak biasa dapat membuat LDW dan LKA bekerja kurang optimal.

Sensor yang tertutup debu, lumpur, embun, stiker, atau aksesori tambahan juga berpotensi menghasilkan pembacaan yang tidak akurat. Area kamera pada kaca depan dan permukaan sensor perlu dijaga kebersihannya.

Perubahan posisi sensor setelah kecelakaan, perbaikan bumper, penggantian kaca depan, atau pekerjaan pada suspensi dapat menyebabkan kalibrasi tidak lagi tepat.

Ukuran ban yang tidak sesuai, tekanan ban yang tidak seimbang, dan perubahan tinggi kendaraan juga dapat memengaruhi sistem tertentu.

Apabila indikator gangguan ADAS muncul, pemilik mobil sebaiknya tidak mengabaikannya. Pemeriksaan dan kalibrasi perlu dilakukan menggunakan prosedur serta peralatan yang sesuai dengan kendaraan.

Apakah Mobil dengan ADAS Berarti Otonom?

Mobil yang memiliki ADAS belum tentu dapat mengemudi sendiri.

Sebagian besar fitur ADAS pada mobil produksi massal dirancang sebagai bantuan pengemudi. Manusia tetap harus mengawasi jalan, memegang kendali, dan siap mengambil alih setiap saat.

Kemampuan mengatur jarak, mempertahankan jalur, dan melakukan pengereman otomatis memang dapat terasa seperti berkendara secara otomatis. Namun, fungsi tersebut hanya bekerja dalam kondisi dan batas tertentu.

Sistem bisa kehilangan pembacaan marka, salah menilai situasi, atau meminta pengemudi segera mengambil alih. Pengemudi juga tetap bertanggung jawab ketika menghadapi persimpangan, jalan rusak, petugas lalu lintas, dan berbagai situasi kompleks lainnya.

Cara Menggunakan Fitur ADAS dengan Aman

Pelajari fungsi setiap fitur melalui buku manual kendaraan. Perhatikan batas kecepatan, kondisi aktivasi, simbol indikator, dan situasi ketika sistem tidak dapat digunakan.

Pastikan kaca depan, kamera, radar, dan sensor ultrasonik selalu bersih. Jangan menutup area sensor dengan aksesori atau modifikasi yang tidak sesuai.

Gunakan lampu sein ketika berpindah jalur. Selain menjadi bagian dari keselamatan dasar, penggunaan lampu sein membantu sistem memahami bahwa perpindahan jalur dilakukan secara sengaja.

Jaga tangan pada kemudi dan pandangan tetap ke jalan meskipun ACC serta LKA sedang aktif. Hindari menggunakan fitur bantuan untuk melakukan aktivitas lain selama berkendara.

Setelah perbaikan pada kaca depan, bumper, bodi, suspensi, atau sistem kemudi, tanyakan apakah kendaraan memerlukan kalibrasi ADAS.

Kesimpulan

Apa itu ADAS? ADAS adalah kumpulan teknologi yang membantu pengemudi memantau kondisi jalan, menerima peringatan bahaya, dan memperoleh intervensi terbatas ketika diperlukan.

Cara kerja ADAS mengandalkan kamera, radar, sensor ultrasonik, serta data dari berbagai komponen kendaraan. Teknologi ini mendukung fitur seperti autonomous emergency braking, adaptive cruise control, lane keeping assist, lane departure warning, blind spot monitoring, rear cross traffic alert, dan driver monitoring.

Kehadiran ADAS dapat meningkatkan perlindungan dan kenyamanan jika digunakan dengan benar. Namun, kemampuan sensor dapat menurun akibat cuaca buruk, marka yang tidak jelas, sensor kotor, atau kalibrasi yang tidak tepat.

Hal terpenting yang perlu dipahami adalah bahwa ADAS bukan pengganti pengemudi dan bukan jaminan bahwa mobil dapat berjalan sepenuhnya secara otonom. Perhatian, keputusan, dan kendali utama tetap berada di tangan orang yang mengemudikan kendaraan.

 

Related Posts